Asrofi – Blogger Semarang

Blogger Kendal Blogger Semarang Jawa Tengah

Dibutuhkan atau Membutuhkan Orang Lain

Dalam hidup terkadang kita harus berposisi, salah satu dari kemungkinan di bawah ini:

  1. Dibutuhkan, dibutuhkan orang lain (pasangan, tetangga dll)
  2. Dibutuhkan dan Membutuhkan, saling membutuhkan
  3. Tidak dibutuhkan oleh siapapun
  4. Tidak dibutuhkan orang lain, tapi justru membutuhkan orang lain.

Pada posisi nomor berapapun saat ini, yang penting kita mau berusaha menjadi yang terbaik.

Bookmark and Share

Apa yang anda lakukan ketika di dalam pesawat yang akan jatuh?

Apa yang anda lakukan ketika di dalam pesawat yang akan jatuh? ini ada sharing pengalaman pribadi dari seorang yang di dalam pewawat mau jatuh, silakan tonton, insyaAllah ada manfaatnya.

Di bawah ini subtitlenya, kalau tulisan di video terlalu cepat bisa baca catatan di bawah ini

Bayangkan sebuah ledakan besar saat Anda naik melewati 3.000 kaki. Bayangkan pesawat yang dipenuhi asap. Bayangkan mesinnya yang berbunyi klak, klak, klak, klak, klak, klak, klak. Terdengar mengerikan. Saya mendapat kursi spesial hari itu. Saya duduk di kursi 1D. Sayalah satu-satunya yang dapat berbicara dengan awak kabin pesawat. Jadi saya langsung melihat mereka dan mereka berkata, “Tidak masalah. Mungkin kita menabrak burung.” Pilot telah membelokkan pesawat dan kita tidak terlalu jauh. Anda dapat melihat Manhattan. Dua menit kemudian, tiga hal terjadi pada saat bersamaan. Sang pilot menyejajarkan pesawat dengan Sungai Hudson. Ini bukan rute yang biasanya. (Tawa) Dia mematikan mesin. Sekarang bayangkan Anda ada di dalam pesawat yang sunyi. Lalu dia mengucapkan tiga kata — tiga kata yang paling tanpa emosi yang pernah saya dengar Dia berkata, “Bersiap untuk tabrakan.” Saya tidak perlu berbicara dengan awak kabin lagi. (Tawa) Saya dapat melihat di matanya, itu adalah teror. Hidup telah berakhir.

Sekarang saya ingin membagikan tiga hal yang saya pelajari pada hari itu. Saya belajar bahwa semuanya berubah dalam sekejap. Kita memiliki sebuah daftar panjang, semua yang ingin kita lakukan dalam hidup, dan saya berpikir tentang semua orang yang ingin saya temui namun tidak saya lakukan, semua penghalang yang ingin saya perbaiki, semua pengalaman yang ingin saya miliki namun tidak. Saat saya memikirkannya kemudian, saya muncul dengan pemikiran, yaitu, “Saya mengumpulkan anggur yang buruk.” Karena jika anggur itu siap dan orang itu ada di sana. Saya akan membukanya. Saya tidak lagi ingin menunda apapun dalam hidup. Dan situasi genting itu, telah mengubah hidup saya.

Hal kedua yang saya pelajari — saat kami melintasi Jembatan George Washington, tidak banyak orang yang tahu — Saya berpikir tentang, wow, saya benar-benar merasakan sebuah penyesalan. Saya memiliki kehidupan yang baik. dalam segala sisi kemanusiaan dan kesalahan saya. Saya mencoba menjadi lebih baik pada semua yang saya coba. Namun dari sisi kemanusiaan saya, saya juga mengijinkan ego saya terlibat. Dan saya menyesali waktu yang saya buang untuk hal-hal yang tidak berarti dengan orang-orang yang berarti. Dan saya berpikir tentang hubungan saya dengan istri saya, dengan teman-teman, dengan orang-orang lain. Setelah itu, saat saya berkaca pada hal itu, saya memutuskan untuk menghilangkan energi negatif dalam hidup saya. Hal itu tidak sempurna, namun jauh lebih baik. Saya tidak pernah bertengkar dengan istri saya dua tahun ini. Rasanya luar biasa. Saya tidak lagi mencoba menjadi benar. Saya memilih untuk menjadi bahagia.

Hal ketiga yang saya pelajari — yaitu saat jam mental Anda mulai menghitung, “15, 14, 13.” Anda mulai dapat melihat air. Saya berkata, “Tolong meledaklah.” Saya tidak ingin benda ini hancur menjadi 20 keping seperti yang Anda lihat di film dokumenter. Dan saat kami turun, saya merasakan, wow, mati itu tidak menakutkan. Hampir seperti kita telah menyiapkan diri seumur hidup. Namun sangat menyedihkan. Saya tidak ingin pergi. Saya mencintai hidup saya. Dan kesedihan itu benar-benar terbingkai dalam sebuah pikiran, yaitu, saya hanya mengharapkan satu hal. Saya hanya berharap dapat melihat anak-anak saya dewasa. Sekitar satu bulan kemudian, saya menonton pertunjukan putri saya — dia ada di kelas 1 SD, tidak begitu berbakat … … belum (Tawa) Dan saya menunduk, menangis, seperti anak kecil. Dan semua hal di dunia menjadi masuk akal bagi saya. Pada saat itu saya menyadari dengan menghubungkan kedua titik ini, bahwa satu-satunya hal yang berarti dalam hidup saya adalah menjadi ayah yang hebat. Lebih dari segalanya, satu-satunya tujuan hidup saya adlaah menjadi ayah yang hebat.

Saya diberikan anugerah karena tidak meninggal pada hari itu. Saya diberikan anugerah lain, yaitu untuk dapat melihat masa depan dan kembali serta hidup secara berbeda. Saya menantang Anda semua yang naik pesawat pada hari ini, bayangkan hal yang sama terjadi pada pesawat Anda — dan semoga saja tidak — namun bayangkan, dan bagaimana Anda akan berubah? Apakah hal yang ingin Anda kerjakan namun masih belum Anda kerjakan? karena Anda merasa Anda akan berada di sini selamanya? Bagaimana Anda akan mengubah hubungan Anda dan energi negatif di dalamnya? Dan lebih dari apapun, sudahkah Anda berusaha sebaik mungkin menjadi orang tua?

Terima kasih.

(Tepuk tangan)

Bookmark and Share

Dalam Menyikapi Bencana Pemimpin dan Bangsa Jepang Lebih “Dewasa”

Saya copy-paste dari sebuah mailinglist.

Mudah-mudahan bermanfaat

Dear all,

Alhamdulillah, hari ini hari ke-4 setelah bencana gempa dan tsunami menimpa Jepang. Kami yg berdomisili di daerah Kansai (Osaka, Kobe, Kyoto, dsk) dalam keadaan sehat wal afiat. Semoga seterusnya demikian.

Walaupun beberapa gempa susulan masih dapat dirasakan di daerah yg lokasinya dekat dgn episentrum gempa. Gempa terakhir dilaporkan terjadi pagi ini di Ibaraki-ken (sebelah Tokyo) berkekuatan 6 SR. Namun, peringatan akan terjadinya tsunami di seluruh daerah pantai timur sudah dicabut resmi oleh pemerintah Jepang sejak malam tadi. Alhamdulillah.

Provinsi Miyagi, terutama kota Sendai, salah satu tempat paling parah yg mengalami tsunami, sudah mulai berbenah. Di kota ini terdapat salah satu universitas papan atas Jepang, yaitu Tohoku university. Banyak mahasiswa Indonesia beserta keluarga mereka tinggal di kota ini. Sampai skrg, mereka yg selamat masih tinggal di pengungsian: gedung-gedung sekolah, stadium OR, balai kota, dan tempat lain. Rencananya, secara berangsur-angsur, mereka akan dijemput dan direlokasikan ke SRIT (Sekolah Rakyat Indonesia di Tokyo) oleh KBRI untuk mendapatkan perawatan, pelayanan dan pendataan yg lebih memadai….Sendai masih gelap gulita, dingin luar biasa, dan carut marut penuh dgn sampah akibat tsunami. Mari kita doakan semua korban agar segera terbebas dari ketakutan dan kemalangan. Amin.

Efek gempa dan tsunami yg menimpa Jepang kali ini mmg sangat dahsyat. Dampaknya bagi kehidupan bernegara, jauh lebih besar dibanding dengan yg pernah dialami Indonesia dgn gempa-tsunami Aceh lalu. Jika dulu, gempa di Aceh hampir tidak terasa di Jkt, gempa Jepang kali ini mengubah `ritme` kehidupan Tokyo sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi.

Per hari ini, Tokyo dan kota-kota di sekitarnya dilaporkan akan mengalami pemadaman listrik secara bergilir. Kereta dan subway pun tidak akan beroperasi secara normal untuk menghemat konsumsi listrik. Ini semuanya terpaksa dilakukan karena pasokan listrik berkurang sejak meledaknya reaktor no.1 plt nuklir di Fukushima dan down-nya pendingin reaktor no.2 di plt yang sama. Penumpang menumpuk di stasiun-satiun kereta. Hampir semuanya terlambat tiba di kantor/sekolah akibat waktu tempuh yg berlipat menjadi 3 atau 4 kalinya. Namun demikian, chaos dan kepanikan tidak pernah terlihat di Tokyo, bahkan dalam keadaan darurat spt ini. Semua org ttp tertib, rapi mengantri dan mendahulukan org lain. Mereka berprinsip, itu adalah sumbangsih mereka untuk membuat keadaan tidak bertambah parah. Salut!

Kami, pelajar Indonesia yg sedang kuliah di sini merasakan betul kekaguman luar biasa untuk bangsa Jepang. Triple bencana (gempa, tsunami, ledakan pltn) yg dialami mereka skrg tidak membuat mereka hanyut dalam kesedihan atau peratapan nasib. Yang ada justru sikap saling bahu-membahu, ttp dalam sikap tenang dan tegar. Falsafah hidup mereka yang `ganbaru` (berjuang sekuat mungkin) menjadi penguat hati dan generator energi yg paling besar.

Televisi Jepang menyiarkan laporan perkembangan bencana non-stop, terus menurus tanpa jeda iklan, semenjak hari Jum`at lalu, di seluruh channelnya. Namun tidak ada iringan lagu sedih, liputan anak menangis, dan lain-lain yg sering kali kita lihat di liputan bencana ala tv Indonesia. Metode yg bagus sekali untuk tidak mengkondisikan kesedihan yg berkepanjangan. Di lain sisi, yang disiarkan adalah imbauan-imbauan pemerintah ttg hal-hal apa saja yg harus diperbuat untuk kebaikan bersama. Seperti menghemat listrik dgn meminimalisasi penggunaan alat elektronik, meng-unplug kabel, dll. Juga diajarkan cara-cara untuk survive spt menggunakan air scr hemat, merakit kompor sendiri, dll. Disiarkan juga nomer-nomer call center yg bisa dihub 24 jam, rs darurat, pemadam kebakaran, dll…Dan yang lebih mengharukan adalah kesungguhan para pemimpin mereka untuk melayani rakyat yg sedang kesusahan!

Perdana menteri Naoto Kan selalu muncul di tv menggunakan baju lapangan spt org para pekerja. Semua mentri pun demikian. Dilaporkannya apa yg sudah ditempuh sampai hari ini, apa saja yg berhasil ditanggulangi, apa rencana ke depan, berapa jumlah korban teridentifikasi dll. Wajahnya tampak jelas kelelahan. Tapi suara dan isi pidatonya selalu mengugah semangat rakyat untuk terus berjuang, ganbaru bersama-sama. Aduhai, alangkah bahagianya rakyat Jepang dipimpin orang-orang yg dapat dipercaya!

Tabik kami untuk mereka, bangsa Jepang dan para pemimpin mereka yg amanah, setulus-tulusnya…

Demikian up date dari Osaka kali ini. Mohon doa dari kawan-kawan semua. Mohon

maaf bila ada yg kurang berkenan..

Salam,

Dian Nur Rahadiani
Department of Histopathology (C3)
Graduate school of Medicine, Faculty of Medicine
Osaka University, JAPAN
phone :
81-80-5337-7666

Disclaimer : Saya hanya copy-paste dari mailinglist.

Bookmark and Share