Asrofi – Blogger Semarang

Blogger Kendal Blogger Semarang Jawa Tengah

Bibit Sengon Solomon


Bibit sengon solomon harganya jauh labih mahal daripada sengon laut biasa. Harga jual bibit sengon solomon ini sangat mahalĀ  karena para pembudidaya bibit sengon solomon sudah mahal membeli benihnya. Jika harga benih sengon laut biasa harganya Rp.160.000/kg maka harga benih sengon solomon Rp.23.000.000/kg. Anda bisa bayangkan perbedaannya sangat jauh.

Saya saat ini tidak menjual bibit sengon solomon, saya hanya menjual benihnya saja. Jika anda membutuhkan benih sengon solomon atau sengon laut biasa silakan menghubungi saya.

  1. Harga benih sengon laut biasa Rp.160.000/kg
  2. Harga benih sengon solomon Rp.23.000.000/kg
  3. Harga benih jabon putih Rp.1.750.000/kg
  4. Harga benih jabon merah Rp.3.500.000/kg

Kalau anda mencari bibit sengon solomon untuk sementara bisa mencoba cari sendiri di daerah Purworejo. Atau jika anda tidak mau repot pergi ke Purworejo anda bisa membibit sendiri sengon solomon -nya dengan cara beli benihnya di saya.

Juga dapat anda pertimbangkan untuk membeli bibit jabon, bibit jabon saya rasa tidak jauh berbeda hasilnya dengan bibit sengon solomon. Pertumbuhan kayu jabon tidak jauh beda dengan seongon solomon.

Bookmark and Share

Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally

Originally Posted by FoeLung
Sepenggal kisah dari Bung Hatta dihari peringatan Proklamasi
Kemerdekaan RI ke 65, untuk diteladani…..

“bernisan bangga, berkafan doa, dr kami yang merindukan orang
sepertimu…”

Subject: Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally
================================================== =

Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally,

Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu
tinggi dan tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI,
berminat pada sepatu itu. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang
memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli
sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu
terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan
handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan. Hingga akhir
hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena
tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally
itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan
sederhana dari seorang Hatta. Pada hal, jika ingin memanfaatkan
posisinya waktu itu, sangatlah mudah bagi beliau untuk memperoleh
sepatu Bally.
Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang
menjadi kenalan Bung Hatta.

Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta
sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih
jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan
orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-
marut zaman ini.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang
lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi
konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin
dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain.

Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia
proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling,
tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi
bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan
meminta sedekah dari orang asing.

Pendapat Meutia Hatta (Salah satu anak Bung Hatta)

Kesederhanaan keluarga Bung Hatta serta sangat kokohnya mantan wakil
presiden itu berpegang pada prinsip mungkin dapat disimak dari
penuturan Meutia mengenai kisah sebuah mesin jahit. Sewaktu ayahnya
masih menjadi orang nomor dua di republik ini, ternyata untuk membeli
sebuah mesin jahit pun tidak bisa dilakukan begitu saja.

Menurut antropolog dari Universitas Indonesia tersebut, ibunya -Rahmi
Hatta- harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan
sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.

Namun rencana membeli terpaksa ditunda, karena tiba-tiba saja
pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai
uang) dari Rp100 menjadi Rp 1. Akibatnya, nilai tabungan yang sudah
dikumpulkan Rahmi menurun dan makin tidak cukup untuk membeli mesin
jahit.

“Karena ikut terkena dampak adanya keputusan sanering tersebut, Ibu
kemudian bertanya pada Ayah kok tidak segera memberi tahu akan ada
sanering. Dengan kalem Ayah menjawab, itu rahasia negara jadi tidak
boleh diberitahukan, sekalipun kepada keluarga sendiri” kata istri
ekonom Prof Dr Sri-Edi Swasono itu.

Pendapat Ny. Rahmi Hatta (Istri Bung Hatta)

Di tahun 1950-an, ketika Bung Hatta masih menjabat sebagai wakil
presiden Republik Indonesia, keteguhan prinsipnya kembali tercermin
dalam kehidupan keluarga. Pada saat sekarang, mungkin saja peristiwa
yang saya alami itu dapat direnungkan kembali.

Pada suatu waktu, uang Republik Indonesia (ORI) mengalami pemotongan.
Seperti halnya para ibu rumah tangga lainnya, di masa itu saya sedang
menabung karena saya berniat untuk membeli sebuah mesin jahit. Tentu
dapat dibayangkan betapa kecewanya hati saya saat itu. Ketika Bung
Hatta pulang dari kantor, saya mengeluh, “Aduh, Ayah ?! Mengapa tidak
bilang terlebih dahulu, bahwa akan diadakan pemotongan uang ? Yaaa,
uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit
sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi.?”

Keluhan wanita mungkin mempunyai alasan tersendiri. Tetapi seorang
pejabat negara seperti Bung Hatta menjawab, “Yuke, seandainya Kak
Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan
disampaikan kepada ibumu.
Lalu kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memberi
tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik!”

Kepentingan negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk
kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sunggguhpun
saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan
kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh
negara. Kita coba menabung lagi, ya?”

Akhirnya sebagai seorang istri saya sepenuhnya dapat memahami prinsip
suami saya itu. Berkat pengalaman hidup bersama bertahun-tahun,
keyakinan saya terhadap prinsip Bung Hatta makin besar pula. Prinsip
itu juga yang menyadarkan saya, agar saya tidak perlu menghalangi
sikapnya ketika Bung Hatta berniat untuk meletakkan jabatannya sebagai
wakil Presiden Republik Indonesia.

(dicontek dari http://forum.detik.com/bung-hatta-kisah-sepatu-bally-t205340.html?s=fe7e7213f4dddda8f3e84cf2d62d917b&)
Bookmark and Share

PENILAIAN ORANG SINGAPURA TERHADAP INDONESIA

Tulisan ini saya dapat dari sebuah mailinglist yang sudah diforward berkali-kali, saya tidak tahu siapa penulis aslinya, siapapun penulisnya saya rasa tulisan di bawah ini layak dipublikasi.

—————————–

PENILAIAN ORG SINGAPURA TERHADAP INDONESIA

Suatu pagi, kami menjemput seseorg klien di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu & english, beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.

Beliau berkata, “Ur country is so rich!”

Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu… “Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia,” lanjutnya. “Everything can be found here in Indonesia, U don’t need the world.”

“Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras.

Lihatlah RS kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik. Sangat terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras..

Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sbg peluang..

Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI.

Belilah pangan dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULES THE WORLD!!!”

———————–

MARI KITA BELI PRODUK DALAM NEGERI

Bookmark and Share