Asrofi – Blogger Semarang

Blogger Kendal Blogger Semarang Jawa Tengah

Sma Negeri 2 Sukorejo

SMA Negeri 2 Sukorejo atau anak-anak sering menyebutnya dengan nama SMANDA Sukorejo itu dekat sekali dengan warnet saya, kira-kira jalan kaki 10 menit lah kalau mau jalan.SMAN 2 Sukorejo tahun ini(2009) meluluskan hampir semua siswanya, hanya kurang dari 10 orang yang tidak lulus dari sekian banyak siswanya.

SMAN2 Sukorejo hanya sebagian saja dari banyak sekolahan menengah pertama di wilayah Sukorejo, Banyak sekali SLTA di daerah saya (Sukorejo Kendal) ini.

Katanya sih SMA Negeri 2 Sukorejo sedang bergerak menuju Berstandar Nasional, mudah-mudahan bisa menghasilkan siswa-siswa yang berakhlak budi yang baik dan mempunyai kecerdasan yang di atas rata-rata.

Saya sangat welcome untuk anak SMANDA ini kalau mereka mau main ke warnet saya, tinggal sebut saja mereka menginginkan pelayanan seperti apa, kita bisa mengkomunikasikannya, apalagi kalau mereka mau ngajak belajar bersama, kebetulan saya mempunyai ruang belajar yang cukup lah, banyak sekali yang anak-anak bisa dipelajari di dunia komputer dan internet ini sebenernya, saya akan dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka jika memang saya memahaminya, misalnya tentang web design, blog, seputar hosting, domain, hardware, networking. Tapi karena saya di sini memang baru ya belum ada yang saya kenal dari anak-anak muda ini, mudah-mudahan nanti saya menemukannya.

Jika anda pembaca blog ini salah satu dari anak SMA Negeri Sukorejo silahkan saja kenalan dengan saya dengan mengisikan komentar di bagian bawah blog ini.

Bookmark and Share

Darul Amanah

Darul Amanah adalah nama sebuah Pondok Pesantren yang berada di Kendal Jawa Tengah, tepatnya di Desa Ngadiwarno Sukorejo Kendal.  Lulusan SLTA saya tahun 2000 dulu di Pesantren ini, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dari pentren ini, diantarnya ilmu berbicara di depan umum, saya dulu diajarkan cara berbicara di depan orang banyak di sana, dan dilatih seminggu sekali, kalau mau berkarir politik kayaknya udah punya modal nih. hihihi.

Hari ini adalah hari kenaikan kelas dan kelulusan buat anak kelas 3, pesantren Darul Amanah menyebutnya akhirussanah, akhirussanah diadakan dengan meriah, wali muri, alumni dan penduduk setempat turut diundang untuk memeriahkannya, saya tidak ketinggalan tentunya. Tadi saya berangkat dari rumah dengan penuh semangat dengan harapan bisa ktemu temen-temen alumni, ternyata temen-temenku ga pada datang.. hikz.

Kenapa temen-temen ga pada datang ya? hmm… saya pikir karena mereka sudah sibuk dengan keluarganya masing-masing, ada yang sudah pada punya anak, usaha, mertua.. hehehe. Ssebagain besar temten-temen saya sudah pada punya anak, rasanya saya aja nih yang masih kosongan.. hihihi.. maksudnya ga ada isri, apalagi anak. Gapapa… belum jodoh, kalo udah jodoh ga bakal kemana…

Buat temen-temen yang mau kontak Pesantren kita lewat internet – Pondok Pensantren Darul Amanah bisa dihubungi di alamat email “daar_el_amanah (at) yahoo (dot) com”.

Anda alumni darul amanah?

BERGABUNGLAH MAILINGLIST DARUL AMANAH!

Masukkan email anda di sini dan klik DAFTAR!

Daftar Mailinglist

Bookmark and Share

Susan Boyle merupakan Koreksi Bagi Industri Hiburan

Melanjutkan obrolan saya tentang Susan Boyle, seorang temen di forum Kendal Online mengirimkan sebuah artikel yang sangat menarik buat kami, berikut adalah artikel yang dikirimkan oleh temen saya:

Acara ini adalah Britain’s Got Talent tanggal 11 April hingga menjadi “BIG HEADLINE” di hampir semua surat kabar di inggris dan menjadi pembicaraan hangat di internet, bahkan acara yang ditayangkan malam hari tersebut membukukan rekor penonton tertinggi sebanyak 11,8 juta pemirsa dengan rating share 45,1% dalam siaran perdana acara talent show di Inggris.
Susan Boyle adalah
seorang wanita tua berusia 47 tahun asal pedesaan di Blackburn, West Lothian Skotlandia, dengan nomer kontestan 43212 yang berhasil merebut hati audiens.
Youtube mencatat penampilan Boyle yang di upload di situsnya ditonton sebanyak hampir 2,5 juta kali hanya dalam 72 jam saja dan per 19 April sudah ditonton oleh lebih dari 30 juta kali yang menjadikannya sebagai “the most viewed video of the month worldwide”.

Pada awalnya saat Boyle memasuki panggung, audiens dan juri seolah-olah sepakat untuk meremehkannya dann memandang dengan sebelah mata. Bayangkan saja, wanita tua yang belum menikah dan tak memiliki pekerjaan berumur 47 tahun dengan wajah yang pas-pasan dan berpostur agak gemuk serta dandanan yang biasa-biasa saja mengikuti ajang bakat yang biasanya pesertanya masih muda-mudi dan secara fisik lebih menarik. Dia muncul seperti umumnya orang kampung, lugu namun dengan penuh percaya diri. Ketika ditanya oleh juri apa impiannya, dia ingin menjadi penyanyi profesional seperti Elaine Paige, seorang aktris sekaligus penyanyi teater musikal yang terkenal di inggris. Penonton di studio hampir mencemoohnya, juri pun tampak sedikit tertawa. Namun, ketika dia mulai menyanyikan lagu “I Dreamed A Dream” dari drama musikal Les Miserables, penonton di studio terkejut, mata ketiga juri pun terbelalak seolah-olah tak percaya dengan suara emas tersebut dan STANDING OVATION pun datang silih berganti dari penonton maupun juri. Sikap meremehkan pun luntur berubah menjadi suasana yang sangat mengharu biru dengan tepuk tangan yang sangat meriah selama Boyle bernyanyi. Tampaknya lagu tersebut yang berarti “saya bermimpi sebuah mimpi” bukanlah sekedar mimpi. Dia telah membuktikan bahwa mimpi bisa diwujudkan menjadi kenyataan tanpa melihat usia dan penampilan fisik.

Yang sangat hebat dan mengejutkan bagi diri Boyle adalah ketika dua orang pembawa acara tersebut (Ant & Dec) memberitahukan kepadanya usai dia di daulat lolos audisi oleh ketiga juri bahwa dia merupakan penyanyi terhebat yang pernah ada selama ajang yang saat ini sudah berlangsung 3 tahun itu (“this is the biggest Yes’s ever given on the shows, in three seats”). Ia mendapat standing ovation yang terus menerus bergantian dari audiens selama dia bernyanyi. “So emotional… unbelievable… fantastic…” begitulah kata2 Boyle merayakan kegembiraannya di belakang panggung. Dia tak menyangka bisa lolos audisi. Setelah menyanyi, dia langsung menuju ke belakang panggung seolah2 sudah meyakinkan diri tak akan lolos audisi. Para juri pun terperangah dan langsung mengatakan “why”, “hello”, “hey comeback here” dan Boyle pun kembali ke tengah panggung seraya mengecupkan tangannya ke arah penonton.

Liza Schwarzbaum, kolumnis majalah selebritas AS, Entertainment Weekly, menilai bahwa penampilan Boyle merupakan koreksi bagi industri hiburan. “Dalam budaya pop yang mulai terjebak dengan penampilan – muka yang keren, baju yang bagus, dan gaya yang elegan – apa yang diberikan Boyle mengingatkan kita bahwa keindahan tidak hanya berasal dari tampilan luar,”

Kehidupannya memang bisa dibilang biasa2 saja sampai penampilannya di ajang tersebut merubah nasibnya. Dia mengatakan bahwa dia tak mempunyai kesempatan untuk mengejar impiannya menjadi penyanyi terkenal karena hidupnya didedikasikan untuk merawat ibunya yang sakit yang kemudian ibunya meninggal pada tahun 2007 silam pada usia 91 tahun. Penampilannya di ajang tersebut merupakan yang pertama kalinya dia bernyanyi kembali di depan umum setelah kematian ibunya. Kepada media The Washington Post, dia mengatakan bahwa keinginannya mengikuti kontes bakat adalah atas perintah ibunya yang selalu mendorong dia untuk mengambil resiko bernyanyi di depan umum dengan jumlah audiens yang lebih besar daripada gereja tempat dia biasa bernyanyi. Kayaknya ibunya telah mengetahui potensi suara emas anaknya tsb yang diatas rata2. Sebelumnya dia telah mengikuti beberapa “professional voice training” di Livingston, Skotlandia. Surat kabar lokal menyebutkan kalau Boyle adalah anak bungsu dari 8 bersaudara, berasal dari desa kecil Blackburn di sebelah barat Skotlandia dimana anak2 kecil di daerahnya kadang2 memanggil namanya dan menertawakannya karena penampilannya dan kehidupannya yang sendiri hanya ditemani oleh kucing peliharaannya, pernah mengikuti sekolah akting Edhinburgh kurang lebih 20 tahun yang lalu, namun kemudian meninggalkan sekolah tsb untuk merawat ibunya. Setelah penampilannya di ajang tersebut, dia berkata.. “I’m proud to be part of the show. It really is a dream come true. It’s really surreal. Basically I wanted to fulfill a wish to my mother. I wanted to do something with my life. Not only that, I feel I have a bit more to offer”. Dia juga mendapat standing ovation ketika dia berjalan ke dalam gereja katolik tempat dia biasa bekerja sebagai relawan. Katanya… “It was incredible. Although we sing in church, not a lot of them knew how good I was, so it was a bit of a shock to them. I’m a bit shy and retiring so they would never have known. It was very emotional. Everyone is very nice and it’s lovely when all the kids stop me in the street to congratulate me”.

Pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini adalah jangan pernah meremehkan orang lain meskipun terlihat kurang meyakinkan dari penampilannya. “Never judge a book by its cover, always think positive firstly about people”. Jangan pula melihat terus kelemahan orang lain karena sesungguhnya di dalam kelemahan tsb tersimpan kelebihan yang tak dimiliki oleh orang lain. “Never look down on the people that u think underneath u”. Cukup banyak orang yang memiliki kekurangan secara fisik namun semangat bertahan hidup yang sangat kuat dan bakat yang luar biasa menjadikan ia sumber inspirasi bagi orang lain yang ada di sekitarnya. Kecenderungan saat ini orang terlalu cepat menilai seseorang dari penampilannnya saja. Boyle mengomentari reaksi audiens sebelum dia bernyanyi.. “Modern society is too quick to judge people on their appearances. There is not much you can do about it. it is the way they think, it is the way they are. But maybe this could teach them a lesson, or set an example”.

Bookmark and Share