Asrofi – Blogger Semarang

Blogger Kendal Blogger Semarang Jawa Tengah

Apa yang anda lakukan ketika di dalam pesawat yang akan jatuh?

Apa yang anda lakukan ketika di dalam pesawat yang akan jatuh? ini ada sharing pengalaman pribadi dari seorang yang di dalam pewawat mau jatuh, silakan tonton, insyaAllah ada manfaatnya.

Di bawah ini subtitlenya, kalau tulisan di video terlalu cepat bisa baca catatan di bawah ini

Bayangkan sebuah ledakan besar saat Anda naik melewati 3.000 kaki. Bayangkan pesawat yang dipenuhi asap. Bayangkan mesinnya yang berbunyi klak, klak, klak, klak, klak, klak, klak. Terdengar mengerikan. Saya mendapat kursi spesial hari itu. Saya duduk di kursi 1D. Sayalah satu-satunya yang dapat berbicara dengan awak kabin pesawat. Jadi saya langsung melihat mereka dan mereka berkata, “Tidak masalah. Mungkin kita menabrak burung.” Pilot telah membelokkan pesawat dan kita tidak terlalu jauh. Anda dapat melihat Manhattan. Dua menit kemudian, tiga hal terjadi pada saat bersamaan. Sang pilot menyejajarkan pesawat dengan Sungai Hudson. Ini bukan rute yang biasanya. (Tawa) Dia mematikan mesin. Sekarang bayangkan Anda ada di dalam pesawat yang sunyi. Lalu dia mengucapkan tiga kata — tiga kata yang paling tanpa emosi yang pernah saya dengar Dia berkata, “Bersiap untuk tabrakan.” Saya tidak perlu berbicara dengan awak kabin lagi. (Tawa) Saya dapat melihat di matanya, itu adalah teror. Hidup telah berakhir.

Sekarang saya ingin membagikan tiga hal yang saya pelajari pada hari itu. Saya belajar bahwa semuanya berubah dalam sekejap. Kita memiliki sebuah daftar panjang, semua yang ingin kita lakukan dalam hidup, dan saya berpikir tentang semua orang yang ingin saya temui namun tidak saya lakukan, semua penghalang yang ingin saya perbaiki, semua pengalaman yang ingin saya miliki namun tidak. Saat saya memikirkannya kemudian, saya muncul dengan pemikiran, yaitu, “Saya mengumpulkan anggur yang buruk.” Karena jika anggur itu siap dan orang itu ada di sana. Saya akan membukanya. Saya tidak lagi ingin menunda apapun dalam hidup. Dan situasi genting itu, telah mengubah hidup saya.

Hal kedua yang saya pelajari — saat kami melintasi Jembatan George Washington, tidak banyak orang yang tahu — Saya berpikir tentang, wow, saya benar-benar merasakan sebuah penyesalan. Saya memiliki kehidupan yang baik. dalam segala sisi kemanusiaan dan kesalahan saya. Saya mencoba menjadi lebih baik pada semua yang saya coba. Namun dari sisi kemanusiaan saya, saya juga mengijinkan ego saya terlibat. Dan saya menyesali waktu yang saya buang untuk hal-hal yang tidak berarti dengan orang-orang yang berarti. Dan saya berpikir tentang hubungan saya dengan istri saya, dengan teman-teman, dengan orang-orang lain. Setelah itu, saat saya berkaca pada hal itu, saya memutuskan untuk menghilangkan energi negatif dalam hidup saya. Hal itu tidak sempurna, namun jauh lebih baik. Saya tidak pernah bertengkar dengan istri saya dua tahun ini. Rasanya luar biasa. Saya tidak lagi mencoba menjadi benar. Saya memilih untuk menjadi bahagia.

Hal ketiga yang saya pelajari — yaitu saat jam mental Anda mulai menghitung, “15, 14, 13.” Anda mulai dapat melihat air. Saya berkata, “Tolong meledaklah.” Saya tidak ingin benda ini hancur menjadi 20 keping seperti yang Anda lihat di film dokumenter. Dan saat kami turun, saya merasakan, wow, mati itu tidak menakutkan. Hampir seperti kita telah menyiapkan diri seumur hidup. Namun sangat menyedihkan. Saya tidak ingin pergi. Saya mencintai hidup saya. Dan kesedihan itu benar-benar terbingkai dalam sebuah pikiran, yaitu, saya hanya mengharapkan satu hal. Saya hanya berharap dapat melihat anak-anak saya dewasa. Sekitar satu bulan kemudian, saya menonton pertunjukan putri saya — dia ada di kelas 1 SD, tidak begitu berbakat … … belum (Tawa) Dan saya menunduk, menangis, seperti anak kecil. Dan semua hal di dunia menjadi masuk akal bagi saya. Pada saat itu saya menyadari dengan menghubungkan kedua titik ini, bahwa satu-satunya hal yang berarti dalam hidup saya adalah menjadi ayah yang hebat. Lebih dari segalanya, satu-satunya tujuan hidup saya adlaah menjadi ayah yang hebat.

Saya diberikan anugerah karena tidak meninggal pada hari itu. Saya diberikan anugerah lain, yaitu untuk dapat melihat masa depan dan kembali serta hidup secara berbeda. Saya menantang Anda semua yang naik pesawat pada hari ini, bayangkan hal yang sama terjadi pada pesawat Anda — dan semoga saja tidak — namun bayangkan, dan bagaimana Anda akan berubah? Apakah hal yang ingin Anda kerjakan namun masih belum Anda kerjakan? karena Anda merasa Anda akan berada di sini selamanya? Bagaimana Anda akan mengubah hubungan Anda dan energi negatif di dalamnya? Dan lebih dari apapun, sudahkah Anda berusaha sebaik mungkin menjadi orang tua?

Terima kasih.

(Tepuk tangan)

Bookmark and Share