Asrofi – Blogger Semarang

Blogger Kendal Blogger Semarang Jawa Tengah

Salah Satu Cara Meminta Maaf Kepada Istri

Lagi-lagi saya mengambil artikel dari Eramuslim, Kali ini ga ada kaitanyya dengan agama atau Politik seperti yang biasa ditulis Eramuslim,  kali ini tentang perkawinan, pernikahan, dan perceraian.

Sangat menarik sekali, silakan dicermati..

Cara Baru Meminta Maaf Kepada Istri

Pria satu ini mungkin bisa dicontoh buat para suami yang ingin meminta maaf atas kesalahan yang dibuat terhadap sang istri. Walau terlihat sedikit lebay tapi boleh juga untuk diterapkan untuk meluluhkan hati istri.

Seorang suami bernama Muhammad Al-Jaghbeez memberi kejutan terhadap istrinya dengan membuat sebuah spanduk sepanjang lima meter untuk mengutarakan permintaan maaf terhadap istrinya yang baru pulang kerja.

Kejadian unik ini terjadi di Yordania, menurut Jaghbeez – istrinya yang bernama Iman telah menggugat cerai terhadapnya setelah istrinya menyatakan bahwa ia sakit hati terhadap perilaku dan kata-kata yang dilakukan oleh Jaghbeez.

Namun Jaghbeez merasa ia tidak dapat bertahan tanpa istri tercintanya itu, terinsprirasi oleh sebuah sinetron Turki yang sedang populer di dunia Arab, Jaghbeez berinisiatif untuk membuat permintaan maaf dengan membuat spanduk sepanjang lima meter dan lebar delapan meter dan dipajang di depan kantor tempat istrinya bekerja.

Tertulis kata-kata rayuan gombal dalam spanduk tersebut; “Sayangku, temanku, istriku, dan ibu dari anakku”. “Saya meminta maaf dari dasar hati yang paling dalam atas segala kesalahan yang telah saya lakukan padamu. Saya berjanji di masa mendatamg kamu akan hidup bersamaku dengan penuh kasih sayang dan penghargaan seperti masa-masa awal pernikahan kita dulu.”

Iman sang istri bekerja sebagai pegawai pada maskapai penerbangan Yordania Airlines, sangat terperanjat sewaktu ia keluar dari kantornya melihat suaminya beserta spanduk besar terpampang serta diiringi sebuah band yang memainkan musik.

“Saya sangat terkesan dan saya berharap ini pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Namun, Iman meminta waktu dua hari baginya untuk berpikir menarik kembali gugatan cerai terhadap suaminya tersebut.

“Saya tidak bisa memutuskan saat ini dan sekarang saya telah mengambil keputusan menggugat cerai setelah tiga tahun masa pernikahan dengannya,” kata Iman dengan penuh emosi kepada AlArabiya.

Jaghbeez menambahkan bahwa ia tidak akan pernah lupa bagaimana istrinya dulu begitu mencintainya dan menekankan bahwa dia akan tetap serta selalu mencintai dan menghormati istrinya.

“Apa yang saya lakukan tidak hanya untuk istri saya,” tambahnya.”Ini adalah pesan untuk setiap suami agar bisa menghormati istri dan menyadari bahwa perceraian adalah keputusan yang sangat kritis bagi pasangan suami istri, anak dan keluarga akan menjadi korban.” (fq/aby

Bagaimana kementar anda?

Silakan tulis komentar anda di bawah ini…

Bookmark and Share

Barat, Islam dan Media

Sepertinya Israel dan sekutunya sudah sangat menguasai media, terutama media-media yang kelas internasional, semuanya sudah dipegang oleh Israel dan Barat, sehingga Media yang seharusnya lugas pun kini sudah tidak jujur lagi. Media besar sekelas CNN saja terlibat dalam pesan poilitik.

Berikut berita  Eramuslim, beberapa diantara ketidakjujuran Media barat…

Setelah BBC, Giliran CNN “Tertangkap Basah”

Pemberitaan media Barat yang menghembuskan isu kecurangan dalam pemilu Iran dan situasi kisruh pasca pemilu Iran yang cenderung tendensius, memaksa pemerintah Iran bersikap tegas terhadap media-media asing tersebut. Ketegasan pemerintah Iran itu bukan tanpa alasan karena terbukti beberapa media asing telah menyiarkan informasi yang tidak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya terjadi di lapangan, terutama dalam aksi-aksi massa yang terjadi di Iran.

Setelah BBC, kini giliran CNN yang “tertangkap basah” menyiarkan informasi yang menyesatkan. Dalam siaran hari Rabu kemarin, CNN menayangkan wawancara lewat telepon dengan seorang perempuan yang disebut berada di tengah-tengah aksi protes yang berlangsung di depan gedung parlemen Iran di kota Teheran.

Dalam wawancara, perempuan yang menjadi nara sumber CNN itu menceritakan seolah-olah situasi di lokasi unjuk rasa dalam keadaan gawat karena tindakan represif aparat keamanan Iran terhadap para pengunjuk rasa. “Situasinya sudah seperti pembantaian” kata si nara sumber CNN yang tidak disebutkan namanya. Menurut si nara sumber, aparat kepolisian Iran sudah bersikap kasar, memukuli para pengunjuk rasa dan menembaki mereka seperti binatang.

CNN tidak tahu bahwa televisi Iran, Press TV merekam wawancara itu dan Press TV juga punya hasil liputan aksi unjuk rasa di depan gedung parlemen yang oleh nara sumber CNN disebut ricuh dan suasanya seperti “pembantaian”.

Press TV membandingkan antara laporan nara sumber CNN dan hasil liputan Press TV sendiri dan menayangkannya satu hari kemarin. Hasil perbandingan itu menunjukkan bahwa laporan nara sumber CNN ternyata tidak sesuai dengan fakta di lapangan yang terekam Press TV. Dalam aksi unjuk rasa tersebut, tidak terjadi keributan seperti yang digambarkan nara sumber CNN.

Pembawa acara Press TV di akhir liputan itu  menantang CNN dan jaringan media Barat lain untuk membuktikan kalau semua berita yang disiarkannya berasal dari sumber-sumber yang bisa dipercaya dan mendesak press Barat untuk tidak membuat laporan yang provokatif dan menghasut.

Fakta ini menjadi tamparan bagi CNN, media massa kebanggaan AS itu. CNN sendiri belum memberikan penjelasan apakah ia sudah dibohongi oleh orang yang disebut sebagai nara sumbernya itu atau CNN sudah dengan sengaja membuat wawancara telepon palsu dengan tujuan untuk menampilkan bahwa wajah Iran dengan kekerasan.

Sebelum ini, media Inggris BBC juga memuat foto hasil rekayasa pelaksanaan kampanye pemilu presiden di Iran. Seorang blogger berhasil membongkar kebohongan BBC yang menggunakan foto kampanye Ahmadinejad dengan massa yang jumlahnya banyak (http://whatreallyhappened.com/IMAGES/iran_protest_rally_lie1.jpg).

Foto itu dipotong sedemikian rupa (foto hasil rekayasa: http://whatreallyhappened.com/IMAGES/iran_protest_rally_lie2.jpg) dan diberi keterangan foto seolah-olah massa yang banyak itu adalah massa Mir Mousavi. Blogger tersebut memuat pemalsuan foto yang dilakukan BBC di situs http://whatreallyhappened.com/WRHARTICLES/iranprop.php

Setelah kebohongannya terbongkar, BBC memuat ralat foto tersebut yang dipasang di bagian paling bawah berita utama. (lihat di http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/8104362.stm)

Sebelum pelaksanaan pemilu, BBC berbahasa Farsi dalam siarannya berusaha menggembosi pelaksanaan pemilu di Iran dengan memprovokasi rakyat Iran agar tidak datang ke tempat-tempat pemungutan suara. Dalam sebuah siaran yang provokatif, seorang presenter BBC bahkan mengatakan, “Dari pada pergi ke TPS, lebih baik anda berkumpul di rumah menikmati Qormeh Sabzi, atau pergi berlibur”. BBC juga berulangkali melakukan agitasi dengan menyebutkan bahwa telah terjadi kecurangan dalam pemilu dan menyebut aksi massa di Iran sebagai cikal bakal revolusi beludru seperti yang terjadi di Cekoslavakia.

Akibatnya, Iran mengusir wartawan BBC. Tindakan serupa dilakukan Iran terhadap stasiun televisi Al-Arabiya yang dianggap menyiarkan laporan yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Matthew Cassel, asistan editor di situs Electronic Intifada-situs independen yang berkomitmen dengan informasi-informasi tentang Palestina-dalam editorialnya, mengkritik cara media Barat meliput situasi terkini di Iran. Ia mengecam media Barat yang tidak independen dan bisa diperalat oleh pemerintahnya untuk membuat sebuah pemberitaan pada publik. Media di negara-negara Barat, yang mengklaim menghormati kebebasan press, kerap membuat pemberitan sesuai pesanan dan selera pemerintahan negara asal media bersangkutan. (ln/prtv/irib/bbc/EI)

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/setelah-bbc-giliran-cnn-tertangkap-basah.htm

Bookmark and Share